
PENGARUH TEORI BELAJAR
KOGNITIF PIAGET DENGAN PRINSIP BELAJAR KESUNGGUHAN DIRI TERHADAP PEMBENTUKAN
KARAKTER SISWA
Disusun untuk memenuhi
tugas Psikologi Pendidikan
Oleh
:
Arini Septiyan Irawati
(11120241)
PENDIDIKAN
GURU SEKOLAH DASAR (PGSD)
FAKULTAS
ILMU PENDIDIKAN
IKIP PGRI SEMARANG
2012
Lampiran
Tingkat Perkembangan Intelegensi :
1.
Tingkat sensori motoris

2.
Tingkat Preoperasional

3.
Tingkat Operasi Konkret

4.
Tingkat Operasi Formal

Teori Belajar “Cognitive-Developmental”
dari piaget
Dalam teorinya,
piaget memandang bahwa proses berpikir sebagai aktivitas gradual dari fungsi
intelektual dari konkret menuju abstrak.
Piaget adalah
seorang psikolog “developmental” karena penelitiannya mengenai tahap-tahap
perkembangan pribadi serta perubahan umur yang mempengaruhi kemampuan belajar
individu. Dia adalah salah seorang psikolog yang suatu teori komprehensif
tentang perkembangan intelegensi atau proses berpikir. Menurut piaget,
pertumbuhan kapasitas mental memberikan kemampuan-kemampuan mental baru yang
sebelumnya tidak ada. Pertumbuhan intelektual adalah tidak kuantitatif,
melainkan kualitatif. Apabila ahli biologi menekankan penjelasan tentang
pertumbuhan struktur yang memungkinkan individu mengalami penyesuaian diri
dengan lingkungan, maka piaget tekanan penyelidikan lain. Piaget menyelidiki
masalah yang sama dari segi penyesuaian/adaptasi manusia serta meneliti
perkembangan intelektual atau kognisi berdasarkan dalil bahwa struktur
intelektual terbentuk di dalam individu akibat interaksinya dengan lingkungan.
Piaget memakai
istilah “scheme” secara “interchangably” dengan istilah struktur. “scheme”
adalah pola tingkah laku yang dapat diulang. “scheme” berhubungan dengan :
·
Refleks-refleks
pembawaan; misalnya bernapas, makan, minum.
·
Scheme mental; misalnya
“scheme of classification” . “scheme of operation” (pola tingkah laku yang
masih sukar diamati seperti sikap), dan “scheme of operation”(pola tingkah laku yang dapat
diamati)
Menurut piaget,
inteligensi itu sendiri terdiri dari tiga aspek, yaitu:
1) Struktur,
disebut juga “scheme”,seperti yang dikemukakan di atas.
2) Isi,
disebut juga “content” , yaitu pola tingkah laku spesifik tatkala individu
menghadapi sesuatu masalah.
3) Fungsi,
disebut juga “function”, yang berhubungan dengan cara seseorang mencapai kemajuan
intelektual.
Fungsi itu sendiri
terdiri dari dua macam fungsi “invariant”, yaitu organisasi dan adaptasi.
Organisasi: berupa
kecakapan seseorang / organisme dalam menyusun proses-proses fisik dan psikis
dalam bentuk sistem-sistem yang koheren.
Adaptasi : yaitu
adaptasi individu terhadap lingkungannya. Adaptasi ini terdiri dari dua macam
proses komplementer, yaitu asimilasi dan akomodasi.
ü Asimilasi;
proses penggunaan struktur atau kemampuan individu untuk menghadapi masalah dalam
lingkungannya, sedangkan
ü Akomodasi;
proses perubahan respons individu terhadap stimuli lingkungan.
Dengan
penjelasan seperti diatas dapatlah kita ketahui tentang bagaimana terjadinya
pertumbuhan dan perkembangan
intelektual.
Pertumbuhan
intelektual terjadi karena adanya proses yang kontinu dari adanya
equilibrium-disequilibrium. Bila individu menjaga adanya equilibrium, individu
akan dapat mencapai tingkat perkembangan intelektual yang lebih tinggi,
Pengaplikasian di dalam belajar;
perkembangan kognitif bergantung pada akomodasi. Kepada siswa harus diberikan
suatu area yang belum di ketahui agar ia dapat belajar, karena ia tak dapat
belajar dari apa yang telah diketahuinya saja. Dengan adanya area baru ini
siswa akan mengadakan usaha untuk dapat mengakomodasi. Situasi atau area itulah
yang akan mempermudah pertumbuhan kognitif.
Jadi secara
singkat dapat dikatakan bahwa pertumbuhan intelektual anak mengandung tiga
aspek, yaitu strukture, content, dan function. Anak yang sedang mengalami
perkembangan, struktur dan konten intelektualnya berubah / berkembang. Fungsi
dan adaptasi akan tersusun sehingga melahirkan suatu rangkaian perkembangan;
masing-masing mempunyai struktur psikologis khusus yang menentukan kecakapan
pikiran anak. Maka piaget mengartikan inteligensi adalah sejumlah struktur
psikologis yang ada pada tingkat perkembangan khusus.
Tahap-tahap perkembangan menurut piaget:
1. Kematangan
2. Pengalaman
fisik/lingkungan;
3. Transmisi
sosial;
4. Equilibrium
atau self regulation.
Selanjutnya
ia membagi tingkat-tingkat per-kembangan , yaitu:
1. Tingkat
sensori motoris : 0,0 – 2,0
2. Tingkat
preoperasional : 2,0 – 7,0
3. Tingkat
operasi konkret : 7,0 – 11,0
4. Tingkat
operasi formal : 11,0 -----
Tingkat-tingkat
perkembangan tersebut tiap anak berbeda.
Penjelasan
1. Tingkat
sensori motoris
Bayi lahir dengan
refleks bawaan, skema dimodifikasi dan digabungkan untuk membentuk tinglah laku
yang lebih kompleks. Pada masa kanak-kanak ini, anak tidak mempunyai konsepsi
tentang objek yang tetap. Ia hanya dapat mengetahui hal-hal yang di tangkap
dengan indranya.
2. Tingkat
preoperasional
Anak mulai timbul
pertumbuhan kognitifnya, tetapi masih terbatas pada hal-hal yang dapat
dijumpai(dilihat) di dalam lingkungannya saja. Baru pada menjelang akhir tahun
ke-2 anak telah mulai mengenal simbol/nama.
3. Tingkat
operasi kongkret
Anak telah dapat
mengetahui simbol-simbol matematis tetapi belum dapat menghadapi hal-hal yang
abstrak, kecakapan kognitif anak: (1) combinativity classification, (2)
reversibility, (3) associativity, (4) identity, (5) serializing. Anak mulai
kurang egoscentrisme-nya dan lebih socientris (anak mulai membentuk peer
group).
4. Tingkat
operasi formal
Anak telah mempunyai
pemikiran yang abstrak pada bentuk-bentuk lebih kompleks.
Prinsip-prinsip belajar
Memiliki kesungguhan
Orang belajar harus memiliki kesungguhan
untuk melaksanakannya. Belajar tanpa kesungguhan akan memperoleh hasil yang
kurang memuaskan. Selain itu akan banyak wakyu dan tenaga terbuang dengan
percuma. Sebaliknya, belajar dengan sungguh-sungguh serta tekun akan memperoleh
hasil yang maksimal dan penggunaan waktu yang lebih efektif. Prinsip
kesungguhan sangat penting artinya. Biarpun seseorang itu sudah memiliki
kematangan, kesiapan serta mempunyai tujuan yang konkret dalam melakukan
kegiatan belajarnya, tetapi kalau tidak bersungguh-sungguh , belajar asal saja,
bermalas-malas, akibatnya tidak memperoleh hasil yang memuaskan.
Misalnya
seorang anak belajar main piano, kalau dia tidak berlatih dengan
sungguh-sungguh, akibatnya akan lambat pandai atau mungkin juga bisa tidak
berhasil (gagal). Di samping itu dia akan rugi tenaga, waktu, dan biaya. Contoh
lain, seorang siswa SMA tidak pernah belajar sungguh-sungguh, baik di sekolah
maupun di rumah. Begitu pula PR (pekerjaan rumah) atau tugas di kelas tidak
pernah di laksanakanya dengan baik, akibatnya akan memperoleh nilai yang kurang
baik. Malu kepada teman-teman dan akhirnya drop-out/putus sekolah. Karena itu,
faktor kesungguhan dalam belajar sangat penting artinya dan harus dilaksanakan
agar proses belajar dapat berhasil dengan baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar