Rabu, 06 Juni 2012

psikologi pendidikan arini


ikip pgri
PENGARUH TEORI BELAJAR KOGNITIF PIAGET DENGAN PRINSIP BELAJAR KESUNGGUHAN DIRI TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER SISWA

Disusun untuk memenuhi tugas Psikologi Pendidikan



            Oleh :
Arini Septiyan Irawati
(11120241)



PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR (PGSD)
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
IKIP PGRI SEMARANG
2012
Lampiran

Tingkat Perkembangan Intelegensi :
1.    Tingkat sensori motoris
2.    Tingkat Preoperasional
3.    Tingkat Operasi Konkret
4.    Tingkat Operasi Formal
Teori Belajar “Cognitive-Developmental” dari piaget
Dalam teorinya, piaget memandang bahwa proses berpikir sebagai aktivitas gradual dari fungsi intelektual dari konkret menuju abstrak.
Piaget adalah seorang psikolog “developmental” karena penelitiannya mengenai tahap-tahap perkembangan pribadi serta perubahan umur yang mempengaruhi kemampuan belajar individu. Dia adalah salah seorang psikolog yang suatu teori komprehensif tentang perkembangan intelegensi atau proses berpikir. Menurut piaget, pertumbuhan kapasitas mental memberikan kemampuan-kemampuan mental baru yang sebelumnya tidak ada. Pertumbuhan intelektual adalah tidak kuantitatif, melainkan kualitatif. Apabila ahli biologi menekankan penjelasan tentang pertumbuhan struktur yang memungkinkan individu mengalami penyesuaian diri dengan lingkungan, maka piaget tekanan penyelidikan lain. Piaget menyelidiki masalah yang sama dari segi penyesuaian/adaptasi manusia serta meneliti perkembangan intelektual atau kognisi berdasarkan dalil bahwa struktur intelektual terbentuk di dalam individu akibat interaksinya dengan lingkungan.
Piaget memakai istilah “scheme” secara “interchangably” dengan istilah struktur. “scheme” adalah pola tingkah laku yang dapat diulang. “scheme” berhubungan dengan :
·         Refleks-refleks pembawaan; misalnya bernapas, makan, minum.
·         Scheme mental; misalnya “scheme of classification” . “scheme of operation” (pola tingkah laku yang masih sukar diamati seperti sikap), dan “scheme of  operation”(pola tingkah laku yang dapat diamati)
Menurut piaget, inteligensi itu sendiri terdiri dari tiga aspek, yaitu:
1)      Struktur, disebut juga “scheme”,seperti yang dikemukakan di atas.
2)      Isi, disebut juga “content” , yaitu pola tingkah laku spesifik tatkala individu menghadapi sesuatu masalah.
3)      Fungsi, disebut juga “function”, yang berhubungan dengan cara seseorang mencapai kemajuan intelektual.
Fungsi itu sendiri terdiri dari dua macam fungsi “invariant”, yaitu organisasi dan adaptasi.
Organisasi: berupa kecakapan seseorang / organisme dalam menyusun proses-proses fisik dan psikis dalam bentuk sistem-sistem yang koheren.
Adaptasi : yaitu adaptasi individu terhadap lingkungannya. Adaptasi ini terdiri dari dua macam proses komplementer, yaitu asimilasi dan akomodasi.
ü  Asimilasi; proses penggunaan struktur atau kemampuan individu untuk menghadapi masalah dalam lingkungannya, sedangkan
ü  Akomodasi; proses perubahan respons individu terhadap stimuli lingkungan.
Dengan penjelasan seperti diatas dapatlah kita ketahui tentang bagaimana terjadinya
pertumbuhan dan perkembangan intelektual.
            Pertumbuhan intelektual terjadi karena adanya proses yang kontinu dari adanya equilibrium-disequilibrium. Bila individu menjaga adanya equilibrium, individu akan dapat mencapai tingkat perkembangan intelektual yang lebih tinggi,
Pengaplikasian di dalam belajar; perkembangan kognitif bergantung pada akomodasi. Kepada siswa harus diberikan suatu area yang belum di ketahui agar ia dapat belajar, karena ia tak dapat belajar dari apa yang telah diketahuinya saja. Dengan adanya area baru ini siswa akan mengadakan usaha untuk dapat mengakomodasi. Situasi atau area itulah yang akan mempermudah pertumbuhan kognitif.
Jadi secara singkat dapat dikatakan bahwa pertumbuhan intelektual anak mengandung tiga aspek, yaitu strukture, content, dan function. Anak yang sedang mengalami perkembangan, struktur dan konten intelektualnya berubah / berkembang. Fungsi dan adaptasi akan tersusun sehingga melahirkan suatu rangkaian perkembangan; masing-masing mempunyai struktur psikologis khusus yang menentukan kecakapan pikiran anak. Maka piaget mengartikan inteligensi adalah sejumlah struktur psikologis yang ada pada tingkat perkembangan khusus.
Tahap-tahap perkembangan menurut piaget:
1.      Kematangan
2.      Pengalaman fisik/lingkungan;
3.      Transmisi sosial;
4.      Equilibrium atau self regulation.
Selanjutnya ia membagi tingkat-tingkat per-kembangan , yaitu:
1.      Tingkat sensori motoris : 0,0 – 2,0
2.      Tingkat preoperasional  : 2,0 – 7,0
3.      Tingkat operasi konkret : 7,0 – 11,0
4.      Tingkat operasi formal   : 11,0 -----
Tingkat-tingkat perkembangan tersebut tiap anak berbeda.
Penjelasan
1.      Tingkat sensori motoris
Bayi lahir dengan refleks bawaan, skema dimodifikasi dan digabungkan untuk membentuk tinglah laku yang lebih kompleks. Pada masa kanak-kanak ini, anak tidak mempunyai konsepsi tentang objek yang tetap. Ia hanya dapat mengetahui hal-hal yang di tangkap dengan indranya.
2.      Tingkat preoperasional
Anak mulai timbul pertumbuhan kognitifnya, tetapi masih terbatas pada hal-hal yang dapat dijumpai(dilihat) di dalam lingkungannya saja. Baru pada menjelang akhir tahun ke-2 anak telah mulai mengenal simbol/nama.
3.      Tingkat operasi kongkret
Anak telah dapat mengetahui simbol-simbol matematis tetapi belum dapat menghadapi hal-hal yang abstrak, kecakapan kognitif anak: (1) combinativity classification, (2) reversibility, (3) associativity, (4) identity, (5) serializing. Anak mulai kurang egoscentrisme-nya dan lebih socientris (anak mulai membentuk peer group).
4.      Tingkat operasi formal
Anak telah mempunyai pemikiran yang abstrak pada bentuk-bentuk lebih kompleks.




Prinsip-prinsip belajar
Memiliki kesungguhan
Orang belajar harus memiliki kesungguhan untuk melaksanakannya. Belajar tanpa kesungguhan akan memperoleh hasil yang kurang memuaskan. Selain itu akan banyak wakyu dan tenaga terbuang dengan percuma. Sebaliknya, belajar dengan sungguh-sungguh serta tekun akan memperoleh hasil yang maksimal dan penggunaan waktu yang lebih efektif. Prinsip kesungguhan sangat penting artinya. Biarpun seseorang itu sudah memiliki kematangan, kesiapan serta mempunyai tujuan yang konkret dalam melakukan kegiatan belajarnya, tetapi kalau tidak bersungguh-sungguh , belajar asal saja, bermalas-malas, akibatnya tidak memperoleh hasil yang memuaskan.
            Misalnya seorang anak belajar main piano, kalau dia tidak berlatih dengan sungguh-sungguh, akibatnya akan lambat pandai atau mungkin juga bisa tidak berhasil (gagal). Di samping itu dia akan rugi tenaga, waktu, dan biaya. Contoh lain, seorang siswa SMA tidak pernah belajar sungguh-sungguh, baik di sekolah maupun di rumah. Begitu pula PR (pekerjaan rumah) atau tugas di kelas tidak pernah di laksanakanya dengan baik, akibatnya akan memperoleh nilai yang kurang baik. Malu kepada teman-teman dan akhirnya drop-out/putus sekolah. Karena itu, faktor kesungguhan dalam belajar sangat penting artinya dan harus dilaksanakan agar proses belajar dapat berhasil dengan baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar